7 Kesalahan ❌ Umum yang Dilakukan Franchisee

7 Common Mistakes Franchisees Make


Kesalahan bisnis franchise

Kesalahan dalam Bisnis Franchise. Dalam industri franchise/waralaba, agar terhindar dari kesalahan maka calon investor (franchisee) mendasari pilihan bisnisnya pada seberapa terbukti berhasil/proven bisnis franchise tersebut. Di sini, franchisee sudah menyadari bahwa bisnis franchise akan lebih baik atau rendah resikonya karena ada faktor pengalaman dari franchisornya.

Tapi sayangnya, keberhasilan franchisor semata tidak otomatis membuat franchisee ikut berhasil karena franchisee juga berperan penting dalam bisnis ini.

Baca juga: 8 Alasan Mengapa Waralaba Jadi Bisnis Populer di Indonesia

7 Kesalahan yang sering dilakukan Franchisee

Kesalahan yang diperbuat, sudah pasti mendorong pada kegagalan. Dan faktanya, terdapat banyak kesalahan yang dilakukan franchisee sehingga menyebabkan bisnisnya tidak berkembang.

Setidaknya, ada 7 kesalahan besar yang umum dilakukan dan bisa berbahaya bagi franchisee dan tentunya akan berakibat buruk juga kepada franchisor sebagai pemilik merek jika franchisee nya gagal.

  1. Kurang nya Informasi

    Kesalahan pertama yang dibuat franchisee umumnya karena kurangnya informasi mengenai bisnis yang akan dilakoni. Kurangnya informasi bukan semata-mata karena franchisornya memang tidak mengetahui, melainkan karena franchisee mengabaikan informasi atau tidak mau tahu.

    Sering karena bisnis yang ingin dibeli cukup terkenal Franchisee berasumsi bahwa β€œpasti” sukses, apalagi nilai investasi nya cukup besar, sehingga menambah kesan β€œpasti” sukses sudah beli mahal.

    Kondisi ini jelas berbahaya bagi bisnis franchise itu sendiri. Kesalahan awal ini bisa berakibat pada kegagalan bisnis yang seharusnya memberikan keuntungan.

    Kelola Bisnis Franchise dengan Aplikasi Kasir iReap POS

  2. Semuanya Diserahkan ke Franchisor

    Praktek bisnis franchise masih diwarnai oleh anggapan yang salah kaprah bahwa bisnis franchisee sepenuhnya menjadi tanggung jawab franchisor. Franchisee berperan dan berpikir hanya sebagai Investor, seakan menganggap dirinya sebagai non-faktor bagi keberhasilan usaha franchisenya. Fakta ini masih sering ditemukan dalam praktek bisnis franchise.

    Franchisor memang bertanggung jawab terhadap bimbingan bisnis bagi franchisee, training, sistem operasional dan prosedur, termasuk juga membesarkan merek secara menyeluruh. Akan tetapi, day to day operasional adalah tanggung jawab franchisee.

  3. Faktor Perasaan Lebih Dominan dibanding Analisa Bisnis

    Tidak sedikit franchisee yang membeli hak waralaba karena dorongan perasaan dan emosi tanpa pertimbangan rasio yang matang. Pertimbangan perasaan membuat calon franchisee tidak jeli dalam memilih bisnis franchise.

    Oleh karena itu, meski punya ketertarikan yang kuat terhadap sebuah usaha franchise, calon franchisee mesti menelitinya dulu secara mendalam. Sebab nantinya, bisnis tersebut akan dijalankan oleh franchisee.

    Dukungan keluarga juga tidak bisa begitu saja diabaikan dalam memilih sebuah bisnis franchise. Mereka ini yang nantinya memberi support mental ketika menjalankan bisnis.

  4. Tidak Ada Kemampuan di Kategori yang Dipilih

    Tidak semua bisnis bisa cocok dijalankan bagi setiap orang karena setiap orang atau franchisee memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, pilihan bisnis harus disesuaikan dengan peminat (franchisee).

    Calon franchisee sebisa mungkin menghindari pilihan kategori bisnis yang tidak sesuai dengan karakter pribadinya. Jika karakter bisnis yang dipilih sesuai dengan karakternya, maka franchisee bisa menjalaninya dengan enjoy.

    Pemilihan jenis bisnis yang sesuai akan mendorong franchisee terlibat juga untuk perbaikan dan memerikan masukan untuk franchisor sehingga membawa keuntungan kedua belah pihak.

  5. Kecukupan Dukungan Dana Operasional

    Franchisee pada umumnya berpikir bahwa dengan membeli suatu bisnis franchise maka akan mendapatkan dukungan dari franchisor, hal ini membuat mereka melupakan bahwa harus memiliki dana tambahan atau cadangan untuk opersional bisnis sehari-hari. Contohnya seperti dana operasional untuk membayar gaji karyawan, biaya operasional listrik, air, telefon dan lainnya.

    Baca Juga: Mengkaji Laporan Keuangan Franchisee, Seberapa Penting Bagi Franchisor

  6. Konflik Dengan Franchisor umumnya karena Komunikasi yang Tidak Lancar

    Dalam hal berbisnis penting selalu memikirkan solusi yang menguntungkan semua pihak, karena itu sebagai franchisee jangan berpikir dan berasumsi adalah customer dari franchisor. Melainkan sebagai partner bisnis, karena itu sebagai partner bisnis komunikasi sangat penting agar bisa berhasil. Hal sekecil apa pun sebaiknya langsung dibicarakan dengan pemilik merek (franchisor).

    Selain itu, intensitas dan kualitas komunikasi juga dapat menghindari kesalahpahaman yang mungkin muncul diantara franchisee dengan franchisor. Biasanya komunikasi rutin terjadi antara franchisee dan franchisor pada awal Kerjasama, namun dengan berjalannya waktu komunikasi akan berkurang terutama apabila jarak yang cukup jauh dari franchisee.

  7. Tidak Membaca dengan Teliti Perjanjian Waralaba (Franchise Agreement)

    Segala bentuk kerja sama bisnis franchise tertuang dalam perjanjian waralaba. Untuk itu, jangan merasa malas untuk sekedar membaca atau bahkan memahami pasal per pasal dalam perjanjian waralaba.

    Perjanjian ini yang akan digunakan dalam menjalankan kerja sama bisnis selama masa yang disepakati. Pastikan perjanjian tersebut win-win bagi semua pihak.

Demikian hal-hal yang umumnya terjadi kesalahan Franchisee dalam menjalankan bisnis Franchise yang bisa berakibat kerugian pada kedua belah pihak. Semoga kita bisa sama-sama belajar agar memperoleh manfaat yang optimal dari kemitraan Franchise.

Salam Sukses Selalu

iReap POS Pro Membantu Memonitor Toko Anda yang Tersebar